IMG-20191123-WA0022-700x385

Aktivis Lingkungan Soroti Eksploitasi Batu Gamping

Kepsul Radar Investigasi – Eksploitasi terumbu karang dan batu kapur (gamping) kembali terjadi. Salah satunya di Desa Kabau Pantai, Kecamatan Sulabesi Barat Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul). Padahal, biota laut tersebut termasuk ekosistem yang mestinya dijaga serta dilindungi.

IMG-20191123-WA0021-700x385

Parahnya, upaya eksploitasi justru dilakukan Kepala Desa setempat Nasrudin Masuku untuk pembangunan talud penahan ombak sepanjang 200 meter. Bahkan, informasi yang dihimpun Radar Investigasi .com Jumat (22/11/2019) ini, jumlahnya sudah mencapai 150 kubik.

Hal ini diprotes oleh warga setempat. Usman Umasangaji salah satu warga menilai terumbu karang serta biota biota laut mestinya dilindungi. Sayanganya, kata Usman Kades justru mengintruksikan warga agar mengambil batu tersebut dilaut sebagai material bangunan.

“Kades perintahkan salah satu ketua RT untuk sampaikan ke warga agar mengambil batu kapur dilaut,”katanya.

Padahal lanjutnya, Bupati Kepsul Hendrata Thes beberapa waktu telah membuat surat edaran terkait pelarangan ekplotasi ekosistem bawah laut.

“Sudah ada edaran Bupati agar masyarakat sama-sama melindungi dan menjaga, ”kata Usman.

Hal ini juga menuai sorotan aktivis lingkungan. Kuswandi Buamona menjelaskan, prosesnya pembentukan terumbu karang karang membutuhkan waktu ribuan hingga ratusan juta tahun. Dalam prosesnya, karang mati dan juga biota laut berkapur lain akan meninggalkan kerangka kapur sebagai bahan utama pembentuk terumbu batuan karang yang ada di daratan terbentuk dari proses tektonik dan kejadian geologis lain.

”Jadi, walaupun sudah mati (karang) fungsinya sama seperti tanah di daratan, yakni sebagai substrat dasar keras pelindung pantai dan habitat bagi berbagai biota laut,”jelas Kuswandi.

Untuk itu, Kuswandi meminta agar Pemda Kepsul segara menindak perusak biota laut yang terjadi saat ini. Apalagi lanjut Wandi, sudah ada edaran Bupati Kepsul terkait itu.

“Untuk itu, saya meminta Pemda untuk seriusi soal masalah ini, apalagi Pemda juga gencar promosi wisata laut, jadi jangan hanya promosi tapi juga dilindungi dan Kades harus dipanggil dan diproses hukum, ” tegasnya.

Terpisah, Kepala desa Kabau Pantai Nasrudin Masuku yang dikonfirmasi minggu lalau mengaku batu yang diambil oleh warga tersebut untuk pembuatan talud penahan ombak. Dia berasalan, material yang dibeli dari luar saat ini cukup mahal.

“Mulai dari nenek moyang kita, batu-batu sudah diangkut dan kalaupun kami membeli diluar desa maka harganya tidak sesuai,”pungkasnya. (rs)