BPN Kukar Diminta Cepat Tangani Persoalan Lahan Pekarangan Milik Warga

Kukar, radarinvestigasi.com – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur diminta warga secepatnya menangani persoalan lahan pekarangan milik warga

Lahan pekarangan milik warga seluas 25 m x 200 m milik Kasan Kusen Bin Rejonawi tersebut terletak RT 02 Desa Mahulu, Kecamatan Tenggarong yang dibelinya dari seorang bernama Lamin seharga Rp.20.000  sejak tahun 1972 silam sekarang sedang bermasalah dengan pihak lain

PhotoPictureResizer_200319_173515121-700x400

Kasan Kusin yang merasa memiliki surat tanah berupa sertifikat M. 31 dan M. 32 tersebut merasa keberatan dengan adanya klaim dari pihak lain pasalnya sejak Kasan Kusen membeli lahan itu, dirinya mengaku langsung mengurus Administrasi ke Jawatan/Dinas Transmigrasi pada jaman itu

Kasan Kusen mulai membangun rumah di atas lahan tersebut sejak tahun 1973 dan mulai membangunnya dengan peralatan seadanya. Usai dibangun dirinya mulai tinggal dirumah itu bersama istri tercintanya Damiem hingga dikaruniai dua orang anak

Sejak adanya persoalan tersebut, Kasan mempertanyakan ke pihak BPN Kabupaten Kutai Kartanegara, namun sampai saat ini pihaknya mengaku belum ada jawaban dari BPN

Menurut keterangan dari Damiem (istri Kasan), permasalahan lahan tersebut muncul sejak tahun 2016 yang lalu. Dimana pihak yang mengklaim lahan datang menemui suaminya (Kasan) dengan meminta tandatangannya dalam surat jual beli lahan pekarangan miliknya

“Permasalahan ini muncul sejak tahun 2016 yang lalu pak, dimana salah seorang yang bernama Misdi itu datang dengan pembeli lahan pekarangan milik kami. Mereka (Misdi) datang dengan meminta tandatangan suami saya untuk menandatangani surat jual beli lahan pekarangan. Karena suami saya merasa tidak pernah menjual kepada pihak manapun, jadi suami saya tidak mau menandatangani surat itu,” tutur Damiem kepada media ini

Damiem pun menceritakan, jika surat lahan pekarangan atas nama suaminya itu pernah dipinjam oleh Kepala Dusun bernama Slamet Margo, saat suaminya sedang merantau

“Surat lahan bersertifikat itu dulu dipinjam oleh Pak Slamet Margo (Kepala Dusun) saat suami saya merantau, dengan alasan untuk diregestrasi ulang, namun hingga saat ini sertifikat itu tidak pernah dikembalikan,” ujar Damiem

Lebih lanjut Damiem menceritakan, dari permasalahan itu dirinya bersama suaminya Kasan mempertanyakan tentang surat sertifikat miliknya kepada mantan Lurah Maluhu Sukono. Dari keterangan yang didapatkan dari Sukono dijelaskan, jika sertifikat itu masih tertahan di Kelurahan Maluhu karena di anggap bermasalah

Karena di anggap bermasalah pihaknya melayangkan surat kepada Lurah yang saat ini di jabat oleh Gunawan Wibisono untuk meminta penjelasan terkait penahanan surat sertifikat miliknya atas nama Kasan Kusen Bin Rejonawi dengan Nomor : 149/SP-AS/TGR/XI/2019.
Tanggal 26 November 2019. Hasil dari balasan surat Kelurahan Maluhu tersebut menyatakan belum menemukan surat asli yang di maksud

“Tanggal 03 Desember kami mendapatkan Chat Gambar Sertifikat dari Lurah Maluhu Gunawan Wibisono, beliau (Lurah) mengabarkan bahwa berkas permasalahan tanah atas nama Kasan Prawiro sudah kami temukan. Tapi kata pak Lurah belum bisa diserahkan karena harus dipelajari dulu. Lurah menyampaikan kepada kami terkait dengan sertifikat itu bahwa sudah berkoordinasi dengan BPN dan akan di ajukan mediasi dalam waktu dekat,” jelasnya

“Saya berharap dari Dinas Transmigrasi, BPN dan instansi terkait agar dapat membantu permasalahan ini agar bisa diselesaikan dengan baik dan mengembalikan sertifikat milik kami,” ujarnya (*Ar)