Namlore, Radar IT – Menjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tidak membuat Brigpol Bastian Tuhuteru berpangku tangan saat ditugaskan sebagai Babinkamtibmas dalam teritorial Polsek Namrole, Kabupaten Buru Selatan.

Selain tugas pokok di lembaga kepolisian, Tuhuteru terjun langsung mencerdaskan anak bangsa di Dusun Walafau Desa Wamkana bagian dari Kecamatan Namrole Pulau Buru. Harapannya agar mereka bisa mengenal huruf dan angka bahkan bisa membaca, menulis dan menghitung.

Dusun Walafau sendiri merupakan dusun dari Desa Wamkana Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Di dusun ini berdiam kurang lebih 15 kepala keluarga atau 50 jumlah jiwa.

Letak Walafau dari pusat Kota Namrole kurang lebih 25 kilometer. Penduduknya merupakan masyarakat asli Pulau Buru yang belum mengenal agama. Mereka merupakan penduduk asli yang sering dikenal sebagai Komunitas Masyarakat Adat.

Mencapai Dusun Walafau ditempuh menggunakan transportasi kendaraan roda dua maupun roda empat. Awalnya dusun ini terisolasi karena belum ada ruas jalan. Namun ketika Kabupaten Buru Selatan dimekarkan menjadi daerah otonom tahun 2008, ruas jalan Namrole-Leksula dibuka. Dan masyarakat di dusun kecil ini bisa berlega. Apalagi ruas jalan utama berada di tengah, membelah pemukiman mereka.

Dari segi ekonomi masyarakat di dusun ini hidup dengan mengandalkan hasil pertanian. Sedangkan bidang pendidikan menjadi kendala utama mereka. Disini tidak ada satu pun sekolah berdiri. Sekolah terdekat hanya berada di Desa Wamkana

Rasa keterpanggilan untuk mencerdaskan anak bangsa di dusun tersebut berawal ketika Bastian Tuhuteru ditempatkan sebagai anggota Babinkamtibmas di Dusun Namrinat. Dusun ini merupakan salah satu dusun dari sekian dusun yang ada di Desa Labuang Kecamatan Namrole.

“Sebagai anggota Polisi saya ditugaskan sebagai Babinkamtibmas di Dusun Namrinat Desa Labuang. Masyarakat Namrinat sudah beragama, sudah mengenal Tuhan. Sementara dusun tetangganya di Walafau hingga kini belum mengenal baca tulis,” katanya baru-baru ini.

Satu saat dia diajak pemuka agama untuk mengunjungi Dusun Walafau. Saat tiba di Walafau dan melihat kondisi yang ada, hati Tuhuteru langsung tergerak. Dia kemudian memutuskan untuk mengajar anak-anak yang ada di dusun tersebut.

Berbekal ilmu yang dimiliki, Sarjana Pendidikan (S.Pd) jebolan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpatti program studi Bimbingan Konseling tahun 2012 ini kemudian melaksanakan tugas bak seorang guru.

Aktifitas belajar-mengajar dilakukan setelah selesai jam dinas sebagai anggota kepolisian. Terkadang ketika waktu luang, dengan seragam coklat yang masih melekat di tubuhnya ia bergerak pergi mengajar anak-anak di dusun.

Awal bertugas Brigpol Tuhuteru langsung diperhadapkan dengan berbagai rintangan, terutama kondisi jalan menuju ke dusun Walafau yang masih jalan tanah. Hujan, panas bahkan debu menjadi teman baju coklatnya, seragam anggota kepolisian. Belum lagi anak-anak bahkan orang tua mereka yang belum mengenal pendidikan.

“Motivasi saya untuk mengajar anak-anak di dusun Walafau karena panggilan jiwa,” ujar suami dari Tasya Salelatu yang sehari-hari berdinas di Rumah Sakit Umum (RSUD) Namrole itu.

Kegiatan mengajar anak-anak dilakukan ketika tugas-tugas sebagai anggota Polri selesai. Ini agar tanggungjawab sebagai seorang aparat untuk menjaga keamanan ketentraman di tengah masyarakat tidak terbengkalai.

”Ketika ada waktu luang, dengan menggunakan motor dinas, saya langsung bergerak menuju Walafau untuk mengajar anak-anak. Saya datang dengan membawa buku-buku bacaan dan juga karton manila sebagai alat peraga untuk mengajar,” urainya.

Pekerjaan untuk mencerdaskan anak bangsa di Walafau sudah dilakoninya setahun terakhir ini. Niat ini juga dilakukan karena anak-anak di dusun itu tidak bisa pergi ke sekolah karena jarak tempuh sangat jauh. Itupun harus naik turun gunung ke desa induk Wamkana.

Kalaupun harus dipaksakan ke Dusun Namrinat juga sangat melelahkan kendati jaraknya lebih dekat dibanding ke desa induk.

”Mereka tidak bisa ke sekolah karena jarak Walafau dengan dusun dan desa yang lain sangat jauh. Ini yang membuat saya berusaha untuk membantu mengajar mereka mengenal huruf A, B, C dan seterusnya. Begitu juga angka 1, 2, 3 4 dan seterusnya,” sebut ayah dua anak ini.

Upaya Tuhuteru untuk mengajar anak-anak didusun pun diketahui banyak pihak saat terpublikasi lewat media sosial (medsos).

Ditusuk rasa peduli dengan dunia pendidikan, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan pun dibuat terperangah. Berbagai bantuan dan perhatian langsung mengalir ke Walafau.

“Ketika masyarakat dan pemerintah daerah mengetahui saya membantu mengajar anak-anak di dusun, bantuan pun datang berupa buku-buku bacaan,” akuinya.

Salah satu hal yang patut disyukuri kata Tuhuteru, Pemkab berjanji tahun 2018 akan membuka sekolah atau lembaga pendidikan di dusun tersebut. Karena selama ini tidak ada sekolah mulai dari PAUD, TK, maupun SD. “Puji Tuhan tahun ini akan dibuka SD di dusun Walafau,” kata Tuhuteru bersyukur.

Lulusan Bintara polisi tahun 2005 ini mengungkapkan, apa yang dilakukannya semata-mata untuk membantu masyarakat yang ada di dusun itu guna mengenal huruf dan angka. Bahkan lebih dari itu bisa membaca dan menulis.

“Kalau orang tua mereka tidak bersekolah tidak bisa membaca dan menulis, jangan lagi anak-anak mereka. Olehnya itu sebagai bagian dari anak bangsa telah menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua untuk mencerdaskan mereka, anak bangsa di Walafau,” sebutnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Buru Selatan Natanel Buce Solisa membenarkan akan dibukanya sekolah SD di Dusun Walafau Kecamatan Namrole. “Sesuai rencana tahun ajaran baru 2018/2019 kita akan buka sekolah baru (SD) di dusun tersebut,” akuinya.

Ijin operasional telah dikeluarkan Kementerian Pendidikan Nasional atas usulan warga dusun dan persetujuan Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa. “Ijin operasionalnya sudah ada dan tahun ini kita tetap membuka sekolah baru di dusun tersebut,” ungkapnya.

Sesuai hasil survey dan data yang dihimpun tim Dinas Pendidikan, ada 30 anak yang nantinya masuk di kelas 1 ketika sekolah resmi dibuka. Jumlah ini cukup banyak dan akan ada pada satu kelas.

“Tugas kita sekarang adalah bagaimana menyiapkan kepala sekolah (Kepsek) dan guru yang nantinya mengajar di sekolah tersebut,” kata Solissa menjanjikan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Namrole Max Lesnussa mengungkapkan pencanangan dimulainya kegiatan pendidikan dasar di Walafau akan dimulai 16 Juli 2018 mendatang yang merupakan awal tahun ajaran baru.

“Memang sampai sekarang belum dibangun gedung sekolah. Tetapi ada dukungan dari Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AM-GPM) sudah menyiapkan kayu untuk membangun gedung sekolah sementara sebagai pertanda dimulainya aktivitas pendidikan SD di dusun itu,” akui Lesnussa.

Mereka berencana pembukaan lembaga pendidikan baru (SD) di Walafau langsung dengan seorang kepala sekolah. “Ketika aktifitas pendidikan dimulai langsung kita tempatkan kepala sekolah, karena tidak mungkin sebuah lembaga pendidikan berjalan tak ada pemimpinnya,” kata Lesnussa.

Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Buru Selatan Semi Tuhumuri.

“Kami apreasiasi anggota polisi tersebut dan kondisi masyarakat setempat. Kami membantu dengan memberikan sejumlah buku untuk dibawa ke dusun,” sebut Tuhumuri.

Tuhumuri mengaku berkeinginan mengoperasikan layanan perpustakaan mobil keliling. Hanya saja kondisi jalan menuju Walafau sangat berbahaya karena belum beraspal.

”Kalau ruas jalannya sudah dihotmix pasti mobil layanan Perpustakaan Keliling bisa menuju kesana sekaligus bisa membantu Bripol Bastian Tuhuteru mengajar anak-anak di dusun tersebut,” tandasnya.
(Sumber: Hum Polres Buru)