Kepsul, Radar IT- Komunitas Mahasiswa Pro-demokrasi (KMPD) Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara. Menggelar, unjuk rasa terkait dengan kasus pelecehan seksual yang menimpa salah seorang perempuan tunawicara (Bisu) Raulia Basahona (19) yang di duga mendapat perlakuan bejat itu dari Ayah Mertuanya Daud Sapsuha, di Desa Wailau Kecamatan Sanana.

Aksi tersebut di gelar beberapa titik utama yakni, depan pasar Basanohi Sanana dan depan Polres Kepulauan Sula,

dalam unjuk rasa ini Kordinator Lapangan(Korlap) Bustamin Gai, dalam orasi singkatnya, mendesak kepada penyidik polres kepsul untuk segera mempercepat proses penyelidikan, karena menurut dia, sampai saat ini status kasus belum ada titik terang.

“Kami berharap kepada penyidik polres kepsul secepatnya melakukan penyelidikan agar keluarga korban bisa mengetahui siapa sebenarnya yang menjadi palaku pelecehan seksual terhadap anak tunawicara ini, “ucapnya.

Belum lama massa aksi berorasi di depan polres kepsul akhirnya diberi waktu untuk menemui Waka Polres Kepsul, Komisaris Polisi (kompol) Arifin la Ode Bury, untuk mengadakan hering, yang di dampingi oleh, KBO Reskrim Ispektur Polisi dua (Ipda) Risal Mochammad, Penyidik La Jaya dan KBO Intel Ruslan Tubaka SH.

Saat berlangusng hering, salah satu massa aksi, Raski soamole, menjelaskan syarat UU sangat jelas bahwa, setiap warga negara Indonesia sama di mata hukum, akan tetapi kata Raski, kasus yang menimpa Raulia ini sangat diskriminatif, sebenarnya bukti apalagi yang di minta.

“Kami sudah mendatangkan pakar mulai psikolog hingga dokter, dan semuanya membenarkan bahwa korban di perkosa yang diduga dilakakun oleh mertuanya Daud Sapsuha hingga saat ini tengah hamil, ” jelasnya.

Selain itu, Muhtadin Sapsuha, kepada awak media, Jumat (09/8/2019) dirinya sudah melaporkan masalah ini di Polres kepsul pada tanggal 29 April 2019 lalu, namun hingga saat ini tidak ada perkembangan dari laporan tersebut, dan untuk bukti semua sudah ada hanya saja, proses penyelidikan tertunda akibat tanggal dan waktu kejadian yang tidak dapat diucapkan oleh korban mengingat karena korban seorang tunawicara. ungkap Muhtadin.

Sementara, KBO Reskrim Ipda Rizal Mohammad, menjelaskan pihaknya sudah bekerja keras untuk bisa menuntaskan kasus ini hanya saja yang masih kendala serta beberapa unsur yang belum terpenuhi seperti, tanggal dan waktu kejadian. jelasnya

“Saat ini Reskrim dan Penyidik selalu berkonsultasi dengan pihak jaksa terkait kelengkapan barang bukti. Jadi kalau kalian mau menanyakan perkembangan kasus langsung saja ke Kasat Reskrim kalau tidak ada kasat bisa langsung ke saya,” Ungkap KBO Reskrim. (RS)