IMG_20191126_223249-700x385.jpg

Divisi Humas JPKP Halteng Soroti Pernyataan Penyidik Soal Tambahan TSK

Halteng, Radar Investigasi – Devisi Humas JPKP Halteng Rosihan Anwar kepada awak media Selasa, (26/11/2019) siang tadi mempertanyakan penambahan tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pembayaran lahan GOR Fagogoru tahun 2018.

Buktinya, dalam pemeriksaan mantan Kabag Pemerintahan Rahmat Safrani dan mantan Kasubag Pertanahan Pemerintahan Zakaria Hi Latif dan beberapa saksi seperti bendahara Bagian Pemerintahan, Penyidik Kejaksaan Negeri Weda belum berhasil menambah tersangka dalam kasus ini. Padahal, dalam penyampaian penyidik beberapa hari lalu akan ada penambahan tersangka dalam kasus ini, setelah menetapkan seorang staf Bagian Pemerintahan M Syukur Abbas yang tidak memiliki kewenangan apa – apa sebagai tersangka,” kesalnya.

Kami soroti dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat salah staf Bagian Pemerintahan yakni M Syukur Abbas alias Rani sebagai tersangka dinilai keliru. Sebab, dalam BAP saudara tersangka uang yang diambil dalam tangan pemilik lahan atas arahan mantan Kabag Pemerintahan Rahmat Safrani kemudian sejumlah uang yang diisi dalam kantong kresek itu diserahkan tersangka kepada atasannya yakni Rahmat Safrani diruang kerjanya.

“Jadi sangat lucu jika Rahmat Safrani mengaku tidak menerima sejumlah uang dari saudara M Syukur Abbas alias Rani. Pertanyaannya jika mantan Kabag Pemerintahan tidak menerima uang dari saudara M Syukur Abbas, siapa pimpinan Kabag Pemerintahan saat itu? Siapa nama Kabag Pemerintahan saat itu (sebelum pergantian Kabag Pemerintahan),” tegas Rosihan Anwar.

Rosihan berharap agar Kejaksaan Negeri Halteng lebih lihai dan teliti dalam pemeriksaan dalam kasus dugaan Tipikor ini.

Sebab kata Rosihan, kita semua tau dalam hirarki birokrasi dalam pengadaan barang dan jasa itu melekat pada struktur ini, sedang kedudukan staf sifatnya mentaati perintah, lalu kenapa seorang kurir menjadi tersangka duluan dari struktur organisasi pengadaan barang dan jasa.

“Inikan lucu dan dinilai mengkambing hitamkan staf yang mentaati perintah atasannya,” ungkap dia.

Pada kesempatan ini JPKP mengharapkan agar keadilan di negeri ini di tegakkan dan tidaklah hanya tajam ke bawah. Sebab paparnya, keterangan saksi Nirwan Jaelan yang saya kutib di media baru – baru ini bahwa tersangka hadir karena pihaknya komunikasi dengan Rahmat Safrani sehingga diperintahkan Rani nama sapaan M Syukur Abbas,” ucap Rosihan.

Terpisah Nirwan Jaelan warga pemilik lahan yang diperiksa sebagai saksi inipun ketika ditemui awak media baru – baru ini mengaku bahwa Rani atau M Syukur Abbas itu sebagai perwakilan Bagian Pemerintahan.

IMG-20191126-WA0118-700x385.jpg
Warga Pemilik lahan atas nama Nirwan Jaelan yg juga sebagai saksi dalam kasus dugaan tipikor lahan GOR

Bahkan uang yang kami terima kata Nirwan, itu tidak sesuai dengan tertera dalam rekening. “Dalam rekening 600 juta lebih, sementara yang kami terima hanya 420 juta itupun kami hanya cair 150 juta yang sisanya katanya uang Bagian Pemerintahan yang dititipkan pada rekening saya,” ungkap Nirwan saat di temui.

Kami dikomunikasi oleh Rahmat Safrani melalui via telpon genggam. “Saya (Rahmat) sudah utus salah satu staf saya ke Bank itu,” kisah Nirwan. (Ode)