Kepsul- Radar IT, Untuk mengembangkan budaya masyarakat Sula sebelumnya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kaepulauan Sula (Kepsul) melalui Kepala Bidang (Kabid) Budaya Yeheder Syekh Abu Bakar menyelengarakan festival Elah-ela yang didalamnya terdapat beberapa mata lomba diantaranya lomba ela-ela desa, lomba gendang sahur sua, lomba live pop religi sua.

Pembukaan tersebut di selenggarakan, di taman wansosa sanana, Senin malam (19/5/2019) dihadir Kapolres Kepulauan Sula AKBP Tri Yulianto Sik. Msi. Dandim 1510 sanana Letkol Inf Larona Susilo, Kajari Sula, Romulus Haholongan, dan sejumlah pimpinan SKPD lingkup pemerintah daera, sekaligus dibuka langsung oleh Bupati Kepulauan Sula Hendrata Thes.

Bapak bupati Hendrata Thes dalam sambatannya mengatakan, budaya merupakan gambaran kebiasaan masayarakat sebelumnya yang mempertahankan transisi kedaerahan dan bersifat universal, karena kebiasaan yang dilakukan tidak terlepas dari bentuk penghormatan alam dan isinya.

“Hal ini menjadi siklus kehidupan yang diyakini saling membutuhkan, karena alam memberikan tempat dan sumber kehidupan, sementara budaya yang berhubungan dengan sang pencipta mengandung nilai sepiritual yang diyakini dapat meningkatkan ketakwaan manusia pada sang pencipata serta membentuk ahlak untuk menjadi manusia yang sampurna,”jelasnya.

Ia menambahkan, ela-ela dengan masyarakat Sula suda dilaksanakan secara turun temurun atau dari generasi ke generasi di setiap bulan suci ramadan, untuk menyambut malam lailatur Qadar, pada malam dua puluh tuju (27) bulan ramadan.

Ela-ela ini dipaksakan dalam bentuk festival oleh pemerintah daerah, dalam bentuk upaya kelestarian budaya, agar tetap terjaga dan memperkaya nilai-nilai spiritual di kepulauan sula.

“Sesuai dengan UU nomor 5 tahun 2017 budaya jika dikemas dengan baik mengandung daya tarik wisata untuk dikunjungi oleh wisatawan baik nusantara maupun manca negara, jika dalam bulan suci ramadan terdapat rangkaian acara ritual ke agamaan yang menarik untuk diminati, maka kunjungan wisatawan manca negara baik negara Arab maupun negara-negara lainnya dapat menjadikan kabupaten kepulauan sula sebagai daerah tujuan wisata. Semoga festival ela-ela perdana ini dapat terus dilaksanakan si bulan suci ramadan di tahun berikutnya agar menjadi ifen tahunan,”tambahnya..

Terpisah sambutan ketua panitia Yeheder Syekh Abu Bakar yang diwakili oleh kepala dinas pariwisata dan kebudayaan Muhammad Drakel mengatakan, festival ela-ela ini sebagai upaya melestarikan bentuk tradisi yang dilakukan bertahun-tahun untuk menyambut malam lailatur Qadar, melalui semangat undang-undang kemajuan kebudayaan, dinas pariwisata berupaya menelusuri dan menginfentalisir bentuk budaya adat, bahasa, sejara untuk dilestarikan juga dikembangkan.

Kata dia, upaya ini membutuhkan kerjasama antara budayawan tokoh adat, tokoh agama yang mempunyai keinginan yang sama untuk membentuk adat budaya bahasa dan benda purbakala serta sejara perjuangan masyarakat kepulauan sula dalam merebut kemerdekaan.

“Saat ini kita harus memulai dengan mengembangkan budaya secara umum maupun budaya yang mengandung nilai sipiritual yang dimiliki oleh masyarakat sula, karena mempunayi hubungan yang erat,”tegasnya. (Ris)