Ini Penjelasan Jubir covid19 Kabupaten Buru Tentang Rapid Test

Namlea,radarinvestigasi.com – Juru bicara Covid 19. Kabupaten Buru, Nani dalam siaran menjelaskan tentang alat Tapid Test,.26/4/2020.

Nani menjelaskan, Rapid Test bukan gold standar untuk mendiaknosa covid. Rapid Test hanyalah alat untuk dikteksi dini apakah seseorang pernah terpapar dengan virus corona ataukah Tidak. Jika pemeriksaan rapid test positif tandanya orang tersebut pernah terpapar dengan virus corona walaupun tidak menimbulkan gejala

Oleh karena itu kata Nani, untuk membuktikan apa betul orong ini terenfiksi covid maka perlu test konfirmasi dengan PCR.perinsip kerja rapid test adalah medikteksi adanya antibody yang di bentuk oleh tubuh seseorang seseorang Tehadap paparan virus.sedangkan PCR lansung mendikteksi ada atau tidak ada virus dalam tubuh.

“Pengunaan Rapid Test minimal dapat membantu mengarahkan petugas kesehatan dalam terlaksana bagi pasien tersangka covid 19. Jika terjadi perburukan gejala pada OPD/PDP maka harus segara di bawa di Puskesmas/Rumah sakit,” jelasnya

Sebaliknya jika tidak terjadi perburukan maka cukup dilakukan pemantauwan dan mengulang memeriksa RDT pada 7-10 hari kedepan.
Adapun hasil rapid test Negatif,ada beberapa kemungkinan;

1.Benar benar tidak terjadi infeksi.
2.kondisi pasian kurang responsive sehingga belum terbentuk Antibody Atau pasien dengan kadar antibody yang rendah.
sedangkan jika Rapid test positif ada beberapa kemunhkinan:
1pasien memeng terikfeksi covid 19/SARS COV-2 virus.

2. Kemungkinan resksi silang dengan virus Corona yang lain seperti: SARS-Cov. MERS-Cov,Human Pathogenic-cov (HCov), atau virus DBD. Oleh karna itu perlu konfirmasi,dengan PCR .Dengan memehami konteks Pemeriksaan Lab Covid 19 tadi,maka kita perlu merumuskan langkah, tidak mungkin hanya mempertahankan mitode PCR tapi juga tidak bisa serta merta, mengandalkan Rapid Test.pemeriksaan covid tetep merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari satregi Trace Tes–Treatmen.

Namlea masih merupakan Daerah dengan Tingakat Transmisi yang Rendah, Strateginya masih di fokuskan pada mereka yang dinyatakan status PDP/ODP atau OTG. Sehingga Diterpakan k strategi tracking pada Kelompok Berisiko, diikuti test/lab dan treatment atau pengobatan sesuai Tingkat Resikonya..(fer(*)