Luwu Timur, Radar – Meski menempati posisi sebagai kabupaten dengan APBD terbesar kedua di propinsi Sulawesi Selatan, namun masih banyak kendala yang mesti dibenahi menuju tercapainya pembangunan yang merata di segala lini.

Salah satunya, infrastruktur jalan menuju kelas jauh Cinta Damai, SDN 253 Amasi Kecamatan Wasuponda.dimana jalan sepanjang 3 kilometer yang harus dilalui merupakan jalan terjal yang licin dan berbatu, sehingga menyulitkan para pengguna jalan termasuk para guru honorer yang menjalankan tugasnya sebagai tenaga pengajar dikelas jauh tersebut.

Seperti yang diketahui, bangunan kelas jauh yang berada didusun Cinta Damai Desa Balambano tersebut memiliki 3 ruang belajar dengan jumlah murid mencapai 50 orang yang dituntun oleh 3 orang guru dimana ketiga guru tersebut 2 diantaranya adalah upah jasa dan seorang lagi adalah tenaga honorer yang telah mengabdi hampir sembilan tahun di kelas jauh tersebut.

Selain digunakan sebagai akses bagi para pelajar, jalan tersebut adalah satu-satunya jalan yang digunakan sebagai akses utama bagi ratusan kepala keluarga didusun tersebut untuk mencari nafkah dimana hampir semua masyarakat di daerah itu adalah petani yang menggantungkan hidup dari hasil ladang untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Salah seorang tenaga pengajar yang berstatus honorer yang kami temui, bertutur tentang keprihatinan mereka yang kadang harus jatuh bangun melalui jalan tersebut, terlebih ketika musim hujan, keadaan jalan yang mendaki itu menjadi sangat licin yang terkadang membuat mereka terjatuh bahkan sampai membuat luka yang membekas ditubuh. Namun, itu tidak menurunkan niat mulia demi menjalankan tugas mencerdaskan anak bangsa.

Setmin Tonangi,seorang tenaga honorer yang telah mendedikasikan hidupnya selama hampir sembilan tahun menjadi pengajar dikelas jauh tersebut memohon agar kiranya pemerintah kabupaten Luwu Timur, sesegera mungkin memperhatikan nasib para warga di pelosok desa agar tidak menjadi menjadikan masyarakat pelosok sebagai masyarakat yang nyaris terlupakan.dengan memperbaiki infrastruktur jalan yang menjadi satu-satunya akses kehidupan didusun tersebut.

“Sudah hampir sekitar sembilan tahun saya mengajar disini,dan hampir setiap hari bila musim hujan kami guru dan warga pengguna jalan yang lain harus jatuh bangun melalui jalan ini karena kondisinya yang terjal dan licin.kami berharap agar kiranya pemerintah sudi memperhatikan nasib kami dan nasib ratusan warga yang berdiam disini.”tutur Setmin dengan raut wajah sedikit memelas.

Selain akses jalan, tenaga pengajar tersebut mengeluhkan kondisi bangunan kelas jauh yang kondisinya tak kalah memprihatinkan, selain pondasi dan lantai yang sudah hancur dinding serta plafon bangunan tersebut sudah kelihatan rusak parah.sehingga tak jarang para guru bekerja ekstra selain mengajari murid belajar juga selalu menjaga agar para murid tidak bermain disembarang tempat diseputaran bangunan karena takut jangan sampai kejatuhan serpihan material lapuk dari atas plafon ruang kelas. (Ali/Luk)