IMG_20190712_185542-700x375

Kasus Keimigrasian Mendominasi Tingginya Deportasi

Nunukan, radarinvestigasi.com – 117 orang Warga Negara Indonesia yang di deportasi oleh Kerajaan Malaysia pada Kamis (11/7/2019) sekira pukul 17.00 WITA tiba di Pelabuhan Internasional Tunon Taka Nunukan.

Para deportan yang bermasalah dari Pusat Tahanan Sementara (PTS) di Tawau, Sabah-Malaysia, berdasarkan nomor surat : 751/Kons/VII/2019, tiba di TPI Pelabuhan Internasional Tunon Taka, Nunukan menumpangi Kapal KM. MID East Express

Bimo Mardi Wibowo, Kasi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Nunukan menjelaskan jumlah WNI yang di Deportasi keseluruhan seramai 117 Orang, dengan rincian laki-laki, 88 Orang, Perempuan, 28 Orang dan seorang anak-anak.

“Para WNI yang dideportasi masing-masing bermasalah di Malaysia karena kasus Keimigrasian, 78 orang, kasus Narkoba 36 orang dan Kriminal lainnya, 3 orang,” jelas Bimo kepada media ini Jum’at (12/7/2019).

Pihaknya yang melakukan pendalaman melalui proses wawancara terkait kasus Keimigrasian terhadap keberadaan WNI di Malaysia, kemudian memperoleh keterangan terkait jalur yang digunakan oleh para Pekerja Migran yang keluar dari wilayah Indonesia berangkat secara ilegal ke Malaysia melalui beberapa pintu.

“Ada seramai 28 orang yang masuk ke Malaysia melewati Pelabuhan Tradisional Sungai Nyamuk, Sebatik. 8 orang melewati Pelabuhan Tradisional Aji Kuning, Sebatik. 6 orang melewati Pelabuhan tradisional Sungai Bolong, Nunukan,” ungkapnya.

Selain itu, penyebab WNI yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian di Malaysia juga karena lahir dan besar Di Malaysia namun tidak tidak pernah keluar dari Malaysia sejak lahir.

“Mereka yang lahir dan besar di Malaysia tapi tidak mengurus dan tidak memiliki dokumen keimigrasian ada 8 orang, dibawa merantau oleh orang tua sejak kecil saat umur dibawah 10 tahun 6 orang dan 3 orang yang secara tidak sengaja melewati perbatasan perairan negara,” lanjutnya.

Bimo juga menegaskan, beberapa keterangan yang didapat dari para deportan, khususnya yang mengaku pernah mengurus ataupun memiliki dokumen keimigrasian berupa Paspor, sebagian besar membuat secara pribadi dan beberapa orang lainnya termasuk para deportan yang ingin bekerja di Malaysia dibantu oleh orang lain yang dikenal sebagai Calo yang menawarkan bantuan untuk pengurusan Paspor maupun PJTKI tanpa mengenali calo yang membantu mengurus dokumen keimigrasian tersebut.

Hal lain selain kasus Keimigrasian, diterangkan Bimo menurut pengakuan para deportan yang keluar wilayah Indonesia secara resmi melalui TPI Tunon Taka, Nunukan. Beberapa orang diantaranya mengaku untuk bekerja secara resmi dengan dilengkapi dokumen pendukung ataupun surat kerja dan beberapa sisanya hanya berkunjung ke rumah keluarga dan kerabat serta liburan.

“Beberapa deportan yang bekerja secara resmi mengaku paspor mereka ditahan majikan, mereka tidak pernah diperkenankan memegang paspor milik mereka sendiri, sehingga paspor yang ada tidak dilakukan perpanjangan jaminan izin tinggalnya, beberapa juga berpindah majikan tidak melalui prosedur secara resmi,” terangnya.

Sedangkan beberapa dari para deportan yang menggunakan paspor pelawat mengaku mendapatkan tawaran pekerjaan di Malaysia dengan jaminan paspor, sehingga mereka menjadi pekerja non prosedural di Malaysia.

Beberapa dari para deportan yang berangkat secara ilegal beralasan mengunjungi Keluarga baik orang tua maupun yang memiliki anak yang bekerja di Malaysia. (Syah)