IMG_20200118_140703-700x375

Kuasa Hukum Jumalang Harapkan, Polres Bulukumba Kedepankan Profesionalisme

KAJANG, RADAR INVESTIGASI.COM – Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin inilah kata yang tepat bagi seorang Jumalang petani warga Dusun Lembang, Desa Batunilamung, Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, Sabtu (18/1/2020)

Masalahnya, setelah Jumalang mendapat penanganiayaan berat dengan tebasan sebilah parang yang hampir saja merengut nyawanya, dirinya pun menjadi terlapor oleh pihak tersangka dengan laporan pengancaman.

Peristiwa penganiayaan ini berawal dari prihal sengketa tanah lahan antara Jumalang dengan Sato. Pada awalnya, Jumalang memenangkan sengketa lahan yang terdapat diwilayah di Desa Batunilamung di pengadilan Negeri Bulukumba beberapa waktu lalu.

Selanjutnya menurut Jumalang menceritakan kepada wartawan dalam bahasa daerah (Kajang) yang diterjemahkan oleh anak Jumalang (Ramli) bahwa tanpa sepengetahuan dirinya, lawannya (Sato) melakukan gugataan kembali dan keluar lagi putusan pengadilan Negeri Bulukumba yang memenangkan Sato dalam perkara sengketa ini.

Oleh karena belum ada pemberitahuan sebelumnya baik dari pihak pemerintah, pihak Sato, maupun aparat hukum terkait dan belum ada eksekusi dari Pengadilan Negeri Bulukumba, menurut Jumalang, sehingga dirinya masih melakukan aktivitas dilahannya seperti biasanya.

Dalam aktivitas di lahannya inilah, tiba tiba didatangi sekelompok orang yang berasal dari kubu Sato sehingga terjadilah insiden penganiayaan ini. Korban dalam penganiayaan ini bukan hanya Jumalang tetapi anak Jumalang beserta istrinya turut terluka dalam insiden penyerangan yang diduga sudah direncanakan sebelumnya.

Atas peristiwa penganiayaan tersebut, ada empat tersangka yang sudah di tahan Polres Bulukumba yakni Sato, Amiruddin, Tahang dan Soni yang saat ini diduga melarikan diri dan belum di tahu keberadaannya oleh Polisi.

Diceritakan Jumalang, berselang kemudian tiba tiba dirinya menurut Polisi Polres Bulukumba menjadi terlapor juga dengan kasus pengancaman oleh para tersangka yang sekarang sudah ditahan di Polres Bulukumba tersebut.

Menyikapi persoalan ini, kuasa Hukum Jumalang Abdul Rasyd, SH yang tergabung dalam Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) mengatakan, “Saya sudah menerima kuasa dari Jumalang tertanggal sejak Kamis 16 Januari 2020. Olehnya itu, saya berharap agar Reskrim Polres Bulukumba yang menangani kasus ini mengedepankan Profesionalisme,” kata Abdul Rasyd, Sabtu (18/1/2020).

“Kami minta penyidik Reskrim Polres Bulukumba agar ketika klien kami hendak dipanggil, entakah itu sebagai saksi atau ingin dimintai keterangannya, agar melayangkan surat panggilan terlebih dahulu dan dijadwalkan agar kami bisa mendampingi klien kami. Jangan asal main jemput saja atau panggilan melalui telpon saja, tapi, melalui surat panggilan resmi agar kami juga bisa tahu klien kami dipanggil dalam rangka apa,” tegasnya.

Kuasa Hukum Jumalang juga mengungkapkan jika dirinya pada Kamis 16/1/2020 kemarin sudah menemui Waka Polres Bulukumba Kompol Syarifuddin, SH.

“Kamis kemarin itu, kami sudah menemui Waka Polres dan menyampaikan prihal klien kami dan sudah memperlihatkan surat kuasa yang diberikan oleh Jumalang,” ungkap Abdul Rasyd, SH.

IMG_20200118_135628-700x375

Menyikapi sengketa tanah yang menjadi rentetan terjadinya peristiwa penganiayaan ini, Kuasa Hukum Jumalang mengatakan,

“Selama belum ada eksekusi atas lahan tersebut, klien saya masih berhak melakukan aktivitas dan penguasaan dilahan tersebut. Dan kami sementara masih berkoordunasi dengan klien kami untuk melakukan langkah upaya Hukum selanjutnya yakni PK,” pungkasnya. (A. Sulfan/Red)