IMG_20191003_153407-750x400

Menolak Uang Logam Bisa di Pidanakan 

Kepsul Radar IT- Menolak Rupiah atau Uang logam mendapat sanksi pidana Kurungan 1 Tahun. Asisten Manager Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara (Malut), Sulaiman Sandiah Menghimbau dan mengajak masyarakat Kabupaten kepulauan Sula (Kepsul) untuk jadikan Uang logam sebagi alat transaksi yang baik.

IMG_20191003_153413-750x400

Asisten Menejer BI Provinsi Malut Sulaiman Sandiah saat di Wawancarai awak media Rabu (2/10/2019) di Aula Isda saat Sosialisasi Bank Indonesia ke Bank sentralan, ciri keaslian uang dan elektronifikasi Mengatakan, kewajiban penggunaan uang Rupiah di wilayah NKRI Uang Logam merupakan hal yang penting yang di gunakan tanpa terkecuali sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 2011

“Sanksi pidana menolak Rupiah sesuai UU Nomor 7 Tahun 2011 Pasal 23 ayat (1) dan (2) sanksi pidana (Pasal 33 ayat 2). Paling lama pidana kurungan 1 Tahun dan denda Rp 200 Juta, kecuali kerena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah sebagaimana yang di maksud dalam pasal 23” ungkap Asisten Menejer BI Malut Sulaiman Sandiah.

Lanjutnya Kondisi di Kabupaten Kepulaun Sula pada umumnya di kota Sanana sangat memperihatinkan karena ada beberapa pihak atau masyarakat yang enggan menggunakan Uang logam kami dari Bank Indonesia menghimbau Kepada masyarakat gunakan uang logam sebagai alat transaksi seperti di Daerah lain.

“Kami dari BI Malut menghimbau kepada masyarakat maupun pelaku ekonomi pedagang maupun elemen masyarakat lainnya untuk sama sama kita merubah pemikiran kita untuk dapat menggunakan Unang logam sebagi sala satu alat transaksi karna di Daerah lain uang logam sangat berharga “himbau Sulaiman.

Tambah Sulaiman, kedatangan BI Malut di Kabupaten Kepulauan Sula. Adalah bagian dari melakukan survei peredaran Uang logam dan bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Kepulaun Sula untuk sosialisasi agar mengantisipasi masyarakat pentingnya uang logam sebagai alat transaksi.

“kita datang juga disini untuk malakukan survei peredaran uang logam di Sula, kemudian kita mengantisipasi masasalah seperti terjadi di wilayah Kabupaten lain, tadi juga dari unsur Pemda Kabupaten Kepulauan Sula juga turut hadir yaitu Sekda, kita juga suda samapikan menganai penggunaan Uang logam penting dilakukan agar Masyarakat dapat Kembali mengunakan uang logam dalam bertransaksi sehari hari” jelas Sulaiman Asisten Menejer BI Malut

Selain itu peserta Sosialisasi Asriyani Buton juga menjelaskan pengalaman pahit soal uang logam. Dia berulang kali mengalami itu, di pedagang berbeda di Sula. Dia menceritakan, pernah membeli barang dengan pecahan uang logam senilai 20 ribu di salah satu warung yang ada di Sula, namun saat membayar pedagang langsung menolak uang pecahan logam yang disodorkan. “Katanya, maaf ibu kami tidak menerima uang logam, “kata Asriyani meniru percakapannya dengan pedagang tersebut.

Dikatakannya, saat mendengar itu dia langsung geram. Sebab, lanjut Asriyani sejauh ini dirinya tidak pernah tahu jika uang logam tidak lagi digunakan sebagai alat pembayaran. Penolakan yang sama juga ia terima dari pedagang di pasar Basanohi, Sanana. “Saya sempat emosi dan hampir saja lapor pedagang itu ke Polisi, “katanya.

Dia mengungkapkan, sikap pedagang di Kota Sanana justru berbeda dengan pedagang desa di Buton yang tetap melayani transaksi jual beli menggunakan uang logam. “Saat saya pulang kampung itu ternyata di kampung terima belanja dengan uang itu, “katanya.
Perilaku pedagang terhadap Asriyani sebenarnya juga dialami sebagian besar masyarakat. (RS)