Soppeng, Radar IT – Setahun belakangan ini, bisnis Pertamini di Soppeng mulai marak terlihat. Namun sampai saat ini belum ada regulasi dari pemerintah yang mengatur terkait bisnis yang menggiurkan ini.

Salah satu pemilik Pertamini yang diwawancarai Radar IT menjelaskan, bahwa dalam 1 tangki pertamini berisi sebanyak 100 liter yang diperoleh dari Pertamina Batu Batu.

“Kami ambilnya di pertamina Batu Batu, ambilnya menggunakan jerigen. Dalam 1 tangki ini isinya 100 liter,” kata salah satu operator Pertamini yang berada di Kecamatan Lalabata ini, Kamis, 13/6/2019.

Diapun mengakui jika 100 liter tersebut habis dalam 1 harinya

“Hanya satu hari habis pak,” ungkap dia.

Dari hasil Investigasi media ini, Pertamini membeli BBM dengan harga subsidi pemerintah kemudian dijual dengan harga Rp.10.000 perliter ke masyarakat konsumen.

Terkait pertamini ini, Kepala Dinas Perizinan Kabupaten Soppeng Firman, SP. MM mengatakan, “Belum ada Pertamini di Soppeng yang memiliki ijin,” jelas Firman, Kamis, 13/6/2019.

Firman mengungkapkan, kegiatan usaha minyak dan Gas Bumi tidak dapat dilaksanakan pada tempat umum, sarana dan prasarana umum, bangunan rumah tinggal. Atau pabrik beserta tanah sekitarnya, kecuali dengan izin instansi pemerintah, persetujuan masyarakat atau perorangan.

Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka tegas Kadis, itu adalah Ilegal atau “Melanggar Hukum”.

Hal tersebut menurut Kadis telah disampaikan oleh kepala BPH Migas kepada Direktur Jendral Standardisasi Perlindungan Konsumen melalui surat yang bernomor 715/07/Ka BPH 2015 4 September 2015, Jelasnya.

“Itu perihal tanggapan terkait legalitas Pertamini dan pendistribusiannya,” tambahnya.

Terutama alat ukur liter yang digunakan oleh Pertamini, itu belum termasuk dalam metrologi Legal sehingga berpotensi merugikan konsumen,” tegas Firman.

Olehnya itu, Kadis Perizinan Soppeng Firman mengimbau kepada seluruh pemilik Pertamini agar mengurus izin.

Kadis Koperindag Andi Makkarakka mengidentifikasi tempat penjualan mesin Pertamini ini berada di wilayah Pattojo.

” Saya dengar pembuatnya ini ada di wilayah Pattojo. Ini perlu penelusuran dan klarifikasi apakah pembuatnya ini memiliki hak cipta atau berstandar SNI, hak pemasaran,” ucap A. Makkarakka pada media ini.

Namun keluh Andi Makkarakka, “Belum ada Regulasi yang mengatur soal penjualan BBM oleh pertamini di Soppeng ini,” pungkasnya. (AT)