IMG-20191120-WA0012-700x385

Study Tour ke SMK 1 Sanana, GLC Bagi Pengalaman

Kepsul Radar IT – No limitation in pursuing best education atau tidak ada batasan dalam mengejar pendidikan terbaik menjadi topik utama dalam talkshow yang digagas oleh Gravity Learning Center (GLC) di SMK negeri 1 Sanana Kabupaten Kepulauan Sula, pada Senin (18/11/2019).

Kegiatan sharing pengalaman pendidikan (life stories of education) tersebut menghadirkan 3 pembicara dari latar belakang berbeda yakni Astrianty Nugraha (Lulusan Master of Public Health – The Australian National University), Ikram Salim (Wartawan Malut Post, mantan Fasilitator Pengembangan Ekonomi World Vision Indonesia, ADP Ternate), Fitri Aplliria (Lulusan Magister Ilmu Politik dan Pemerintahan – Universitas Gadjah Mada), Wandi Buamona (Pengacara Muda).

Dalam kesempatan tersebut ketiganya sama-sama menceritakan perjalanan pendidikannya masing-masing dengan berbagai kendala dan keterbatasan terutama masalah ekonomi.

Astriyani Nugraha misalnya, menceritakan pengalaman sejak menimba ilmu di Australia dan tinggal jauh dengan keluarga. Menurutnya, beasiswa yang ia terima, pada saat melalui jalur daerah terpencil. “Saya awalnya tidak punya pengetahuan tentang Bahasa Inggris, sehingga saya harus belajar dari nol untuk ikut dalam seleksi penerimaan beasiswa itu, “kata Astriyani.

Menurut perempuan asal Desa Mangon itu, dengan kekurangannya terutama soal keterbatasan ekonomi keluarga maupun bahasa Inggris-nya tidak menjadi penghalang baginya untuk merintis ilmu ke negeri berjuluk kanguru itu. “Saya membuktikan diri bahwa tinggal di daerah yang paling ujung bukan berarti menjadikan kita terbelakang, “ujarnya.

Demikianpun Fitri Aplliria, ia menceritakan pengalamannya menimba ilmu di salah satu kampus terbaik Indonesia tersebut. Menurutnya, beasiswa yang ia terima tersebut membuatnya berstudy tanpa ada bantuan seperpun dari orang tua. “Semua anak muda punya impian jadi gantungkan impian itu setinggi mungkin dan ade-ade disini juga bisa untuk melanjutkan studi sampai keluar negeri maupun kampus terbaik, “ujarnya.

Sementara Wandi Buamona selaku pengacara menuturkan, saat melanjutkan pendidikan dengan memilih jurusan Hukum, Unkhair dirinya justru di cemoh oleh orang-orang.

“Ada yang bilang ambil jurusan hukum mau hukum siapa, saya tidak ambil pusing karena yang saya mau itu saya membela orang yang tidak mampu untuk mendapat perlindungan hukum, “ujar Wandi.

Bahkan lanjutnya, setelah meraih gelar sarjana dirinya juga mencatatkan namanya sebagai pengacara termuda di Malut. “Dan sampai sekarang saya sudah menangani ratusan kasus dan tidak ada hambatan apapun, “ujarnya sembari mengaku telah membentuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) gratis bagi masyarakat kurang mampu.

Sementara Ikram lebih cenderung menceritakan pengalamannya selama menempuh studi hingga menjadi wartawan di Malut Post. Menurut Ikram, sebagian besar pelajar maupun mahasiswa tidak memiliki keinginan untuk menjadi wartawan. Dengan berbagai alasan namun, yang paling utama yakni tidak memberikan jaminan masa depan.

“Makanya semuanya pasti berkeinginan menjadi PNS atau di gaji oleh negara, padahal tugas wartawan itu mulia, selalu tampil terdepan terutama terutama yang berhubungan dengan masyarakat, “jelas Ikram. Kegiatan yang pandu oleh Asmarita Silayar tersebut di lanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Sementara Ketua GLC Irawan Duwila menuturkan, gagasan besar GLC mulai sejak September 2019 lalu. Dan sudah ada dua kegiatan yang terlaksana yakni talkshow pendidikan dan study tour pada 22 September 2019. Tema yang diangkat yaitu “No Limitation in Pursuing Best Education – Vol. 1 Our Life Stories of Education”. Kegiatan kedua pada 12 Oktober 2019.
“Tujuan dari Gravity Study Tour ini adalah mendorong sekolah-sekolah di Sanana dan sekitarnya untuk aktif melakukan pembelajaran di luar ruangan. Bentuk kegiatan GST adalah kunjungan ke Polres Kepulauan Sula. GST mengajak dua sekolah untuk terlibat dalam kegiatan ini yaitu SD Al-Khairat Sanana dan SD Islam Terpadu Insan Cendekia Sanana. “ujar Magister Pengembangan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Universitas Muslim Indonesia Makassar itu.

Sejauh ini lanjut Irawan, respon dari pihak sekolah dan anak-anak yang terlibat sangat positif. Mereka sangat senang dan berharap kegiatan seperti ini dapat terlaksana kembali.

“Kondisi sosial masyarakat yang terdiri dari pulau-pulau di Sula, sangat berpengaruh terhadap siswa dan anak muda untuk dapat memiliki harapan pendidikan yang lebih baik, “pungkas pria berkacamata itu. (rs)